Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Juni 2017

Demi Ngaji ke Gus Mus, Ngontel Kediri-Rembang

Rembang, santrionline
Jarum jam menunjukkan pukul 08.00 WIB ketika seorang santri dari Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur bernama M Rizki Wahyudin (22) mulai mengayuh sepeda pancalnya menuju Rembang, pada Jumat 26 Mei 2017.

Berbekal uang saku Rp15.000, remaja bersapaan akrab Wahyu, memantapkan diri bertarung dengan terik matahari untuk mewujudkan kehendaknya, mengaji kepada sang idola, KH Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus di Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh.
Bagi dia yang kelahiran Lampung Selatan pada 4 Juni 1995, bersepeda jauh, bukan hal baru. Namun cukup sejauh Kediri-Jombang. Sementara ngontel dengan jarak sekitar 227 kilometer ke Rembang, baru kali ini dilakoni. Terlebih dengan bekal seadanya.

“Saya ngefans dengan Gus Mus dan Mbah Moen (KH Maimoen Zubair, Sarang). Sulit mencari ulama seperti beliau dalam hal berdiri tegak di tengah kelompok kanan dan kiri,” kata Wahyu kepada mataairradio.com, setelah sampai di Leteh, Senin (29/5/2017) dini hari.

Ia yang Kelas II Tsanawiyah di Lirboyo sempat mengontak orang tuanya di Lampung Selatan, sebelum berangkat ke Rembang. Berpamitan dan meminta tambahan kiriman uang saku. Izin dikantongi, tapi permintaan keduanya tak langsung dipenuhi.

“Santri di Lirboyo bebas mengaji kemana ketika libur Tsanawiyah. Begitu mantap, saya sowan ke kiai bareng teman-teman. Sempat kontak juga orang tua. Pamit dan minta uang saku, tapi nggak langsung dikirim. Akhirnya tetap berangkat dengan bekal Rp15.000,” katanya.

Bagi remaja Kampung Merambung Kecamatan Penengahan ini, bekal utama di kehidupan ini adalah keyakinan. Yakin atas kuasa Allah. Maka dari itu, ia pun makin mantap menggenjot pedal sepedanya, hingga pukul 10.00 WIB, tiba dirinya di Tambakberas, Jombang.

“Jam 8 pagi saya berangkat dari Lirboyo. Dua jam perjalanan bersepeda secara santai, jam 10 sampai Jombang. Saya Salat Jumat di Masjid Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Sekitar jam 2 siang saya berangkat lagi ke arah Babat Lamongan,” tuturnya.

Hujan deras mengiringi kayuhan ontel sepeda Wahyu menuju Babat yang diarunginya dalam tujuh jam. Meski bermantel, ia menyatakan merasa kedinginan. Pukul 21.00 WIB, ia mampir di sebuah warung nasi di Babat untuk membungkus bekal makanan buat sahur.

“Tetapi akhirnya menginap di tempat teman komunitas sepeda. Dikasih makan. Saya bermalam hingga sahur. Pukul 08.00 WIB, saya baru mulai mengontel lagi meninggalkan Babat. Iya, dalam kondisi puasa,” tuturnya.

Setelah sekitar dua jam lebih perjalanan, ia sampai di Tuban. Ia beristirahat di Masjid Agung Tuban sebelum kemudian berziarah di Makam Sunan Bonang di Tuban. Wahyu mengaku baru melanjutkan lagi perjalanan dari Tuban menuju Rembang pada sekitar pukul 15.00 WIB.
“Saya lalu mengayuh lagi sepeda ontel ini menuju Sarang. Sempat istirahat di RM Simpang Raya untuk buka puasa. Tak disangka, alhamdulilLah diberi kemurahan setelah sang pemilik tahu sepeda saya dan tanya-tanya ke saya. Jam 7 malam saya bergerak lagi dan sampai Sarang jam 10 malam hari Sabtu,” terangnya.

Sesampainya di Sarang, ia bertemu dengan sesama teman santi dari Lirboyo. Hatinya saat itu mulai berbunga, setelah mendapat kabar bisa sowan ke Mbah Moen pada keesokan hari usai Salat Asar, dan akhirnya bisa bertemulah Wahyu dengan ulama sepuh tersebut.

“Mbah Moen ini dahulu mengaji, nyantri juga di Lirboyo. Mbah Moen bahkan pernah ketemu dengan generasi 1910, atau awal pendiri Lirboyo, Jadi secara sanat keilmuwan, dekat dengan para pendahulu. Namun pada Puasa tahun ini saya ingin mengaji kepada Gus Mus, yang juga alumnus Lirboyo,” katanya.

Selepas berbuka Puasa dan Salat Magrib, alumnus MAN Pandeglang Banten tahun 2013 ini kembali melanjutkan perjalanan ke Rembang, dalam guyuran hujan. Baru sampai di Lasem, ia sempat mengira sudah tiba di Rembang, lantaran sistem pemandu arah di genggamannya menunjukkan rujukan berbeda.

“Sempat bingung karena GPS di ponsel saya menunjukkan arah yang berbeda yaitu arah Blora. Tapi saya tanya sopir di dekat MAN Lasem dan diarahkan untuk menuju Alun-alun Rembang yang jaraknya sekitar 12-13 kilometer dari sini,” kata remaja yang baru tiga tahun ini mondok di Lirboyo. Hingga akhirnya sekitar pukul 03.00 dini hari Senin, 29 Mei 2017, ia mencapai Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang. Di tasnya berisi beberapa potong pakaian, matras, kompor, dan kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghozali yang diajarkan Gus Mus pada Ramadan 1438 Hijriah ini. “Sepeda ontel ini milik teman, yang alhamdulillah boleh saya pinjam. Katanya, sepeda ini bikinan Swiss. Iya sengaja saya kasih bendera Lirboyo dan Merah Putih. Biar kelihatan kalau saya perjalanan jauh serta lambang cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sekaligus untuk mengenalkan Lirboyo,” katanya.

Di Rembang, ia berniat mengaji kitab tersebut kepada Gus Mus sampai hatam. Seusainya nanti, ia akan kembali pulang ke Lirboyo. Namun petualangannya ini belum kelar karena tekadnya mengaji juga kepada Habib Lutfi Pekalongan, Mbah Dim Kaliwungu, dan Mbah Moen Sarang, di kesempatan mendatang.

“InsyaAllah pulang juga akan bersepeda. Jika menurut survei orang bersepeda itu bahagia, maka survei itu benar. Saya merasakan. Soal mengaji, pesantren adalah pilihan terbaik. Sebab akan kita dapatkan ilmu agama yang murni. Dengan begitu, paham-paham radikal dan menyimpang, akan tertolak sendirinya,” pungkasnya.

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto
Sumber:mataairradio.com

Kamis, 25 Mei 2017

Suami Jadi Buah Bibir Netizen, Artis Cantik ini Tetap Bahagia, Hidupnya Fantastis

Beberapa waktu lalu, pernikahan artis cantik Indonesia, Fiona Fachru Nisa dengan seorang pengusaha, Roni Fauzan sempat jadi perbincangan publik.
Fiona Fachru Nisa, merupakan artis berkebangsaan Indonesia kelahiran Medan, 21 Juli 1994.
Suami Jadi Buah Bibir Netizen, Artis Cantik ini Tetap Bahagia, Hidupnya Fantastis
Namanya dikenal ketika ia berhasil meraih gelar runner up dalam ajang Miss Celebrity Indonesia di tahun 2011.
Sejak itu ia pun sering bermain dalam sinetron maupun film layar lebar.
Namanya semakin melambung setelah ia menjadi presenter acara tv Eat Bulaga yang tayang di ANTV.
Dalam Eat Bulaga ia menjadi pengisi acara bersama Vicky Prasetyo.
Tak pelak, karena sering mengisi acara bersama, Fiona dan Vicky Prasetyo dikabarkan pernah dekat.
Sempat dekat, akhirnya Fiona memilih mengakhiri hubungannya dengan mantan Zaskia Gotix tersebut.
Fiona menikah dengan manajer tim sepakbola Mitra Kukar, Roni Fauzan.
Pada Sabtu (17/12/2016) kemarin, seharusnya menjadi hari yang membahagiakan untuk keduanya.
Namun kesedihan justru melanda hati Fiona.
Fiona bahkan mengaku terus menangis sejak dimulainya resepsi pernikahan keduanya yang digelar di Hotel JW Marriott, Kawasan Mega Kuningan, Jakarta.
Dalam pesta mewah itu, ia tampak hadir sendirian tanpa kehadiran sang suami.
Busana yang ia kenakan pun sangat kontras dengan dekorasi pesta di sekelilingnya.
Fiona hanya menggunakan baju panjang berwarna putih dengan aksen hijau.
Padahal dekorasi resepsi pernikahan tersebut bisa dibilang sangat mewah karena mengambil tema fairytale.
Bukan hanya itu saja, pernikahan Fiona dan Roni ini juga sering mendapat komentar negatif netizen.
Netizen julid sering mengomentari fisik dan usia dari suami Fiona.
"Didandani donk suaminya biar ng kelihatan kucel gitu."
"Aduh suaminya kyk kuli bangunan."
"Di kirain bpa sma anak ternyataaaa...suami nya."
"Seperti bapak dan anak."
"Itu mah pantesan jd bapak.a."
Sering mendapat komentar yang menjelek-jelekkan suaminya, Fiona pun pernah meluapkan kemarahannya di Instagram.
Lewat akun Instagramnya @fionafachru, Fiona meminta netizen untuk berhenti menjelek-jelekkan suaminya.
Berikut kemarahan yang pernah dituliskan oleh Fiona:
Instagram
"STOP NgeBULLY yaaa!!
Gak cape yaaaaa udah sebulan ngatain orang trus..
baca nyaaaa aja capek, masa yg ngetik gk pegel..
Sebelum ngatain , bercermin dl..
Gak tau lho kedepannya hidup kalian juga gimana, anak kalian gimana atau keluarga kalian juga akan gimana..
Instagram
kami berdua bahagia, kenapa kalian harus repot..
Buat apa nikah sama yg muda tapi gk bisa buat nyaman..
Ganteng atau jelek itu relatif.
Instagram
Kl dptin cowo yg mapan itu Bonus yg Allah kasih buat kita sesuai dengan perbuatan kita selama ini.
Hidup itu pilihan guys!
Untuk semua temen2 yg mendoakan terimakasih banyaaaakk ya," tulis Fiona.
Namun meski sudah diperingatkan, netter tak mau berhenti menuliskan komentar negatif tentang suaminya.
Instagram
Fiona pun kini sudah tak lagi peduli dengan berbagai komentar dari netizen.
Terbukti ia tetap bisa berbahagia dan menerima sang suami apa adanya.
Dari berbagai postingan di Instagram, juga terlihat jika Fiona menikmati perannya sebagai seorang istri.
Berikut adalah foto-foto potret kebahagiaan Fiona dengan sang suami:
Instagram
sumber ; m.tribunnews.com

BACA DAN SEBARKAN !!! Dihujat Dan Diancam Akan Dibunuh, Ini Sindiran Menohok Afi Untuk Pembullynya


Imbas dari tulisan 'Warisan' yang dibuat siswi SMA asal Banyuwangi, Asa Firda Inayah (19), berbuntut panjang. Betapa tidak, setelah tulisan itu viral, pemilik akun jejaring sosial Facebook Afi Nihaya Faradisa ini kerap dirisak, dihujat bahkan diancam akan dibunuh.

Ia mengaku sering mendapat ancaman pasca statusnya di akun Facebooknya viral dan disukai banyak orang. Ancaman itu datang dari inbox di Facebooknya dan telepon dari orang tidak dikenal.

"Saya dianggap sebagai liberal, sekuler dan tidak berpihak kepada Islam," kata siswi kelas III SMA Negeri 1 Gambiran, Banyuwangi itu saat ditemui di Kota Malang, Jumat (19/5/2017).


Seolah memberikan jawaban kepada para pengancam serta penghujatnya, Senin (22/5/2017), Afi pun kembali mengunggah tulisan sarat sindiran di Facebook miliknya. Tulisan itu berjudul 'Cara Agar Hidupmu Damai di Negeri ini'.


Di tulisan itu, Afi seolah berperan sebagai seorang kakak yang menasihati adik-adiknya, namun sarat kalimat bermajas sarkasme. Dalam tulisan itu, Afi meminta agar para adik kelasnya jangan pernah bersuara, jangan pernah percaya diri, jangan bersikap kritis, jangan berpendapat, jangan suarakan keresahan, jangan berpikir macam-macam, apalagi sampai berani mempertanyakan sebuah keadaan yang telah lama tertata.

"Kalian tahu, para orang dewasa itu kadang-kadang membingungkan. Mereka ingin negara mereka maju, tapi suara yang menyeru kemajuan ramai-ramai dibungkam hanya karena mereka tidak ingin ego mereka sebagai pihak-lebih-tua-yang-selalu-benar akan terusik. Hanya karena mereka tidak mau posisi mereka sebagai orang yang lebih superior tercabik. Mereka tidak mau dibangunkan dari tidur panjang, tak seorangpun ingin kehilangan kenyamanan," tulis Afi.


Afi pun seolah memberikan contoh dirinya yang vokal dan pemikirannya berbeda sehingga mendapatkan banyak hujatan dan makian.

"Adik-adikku para harapan bangsa, belakangan ini seorang anak telah membuktikannya. Entah berapa ribu kali pesan penghakiman telah dilontarkan orang. Entah berapa ribu kali ia dikatakan tidak pernah ngaji atau tidak berpihak pada agama yang ia anut dengan keputusannya sediri. Ia memaparkan pandangan universal yang dipahami oleh semua agama, sedangkan beberapa orang memberi tanggapan dan tandingan hanya dengan menggunakan perspektif yang berasal dari keyakinannya sendiri. Dimana nyambungnya?" tulis Afi.


Di akhir tulisan, Afi pun menggambarkan bagaimana negeri yang ditinggalinya dan secara sarkasme, meminta adik-adik kelasnya memupuskan harapan mereka.


"Ingatlah yang kakak sampaikan. Jangan terlalu tinggi harapan! Kau lihat sendiri, di negeri ini, Korupsi, rusak moral, dan sepi nalar tidak apa-apa, asalkan kau tidak berkata terlampau jujur terhadap realita," tulis Afi.


Berikut tulisan lengkap Afi:

CARA AGAR HIDUPMU DAMAI DI NEGERI INI


Teruntuk adik-adikku di SMP dan SMA, jangan pernah bersuara. Jangan pernah percaya diri untuk tampil berbeda. Jangan bersikap kritis. Jangan berpendapat. Jangan suarakan keresahan kalian. Jangan berpikir macam-macam, apalagi sampai berani mempertanyakan sebuah keadaan yang telah lama tertata.


Kalian tahu, para orang dewasa itu kadang-kadang membingungkan. Mereka ingin negara mereka maju, tapi suara yang menyeru kemajuan ramai-ramai dibungkam hanya karena mereka tidak ingin ego mereka sebagai pihak-lebih-tua-yang-selalu-benar akan terusik.


Hanya karena mereka tidak mau posisi mereka sebagai orang yang lebih superior tercabik. 
Mereka tidak mau dibangunkan dari tidur panjang, tak seorangpun ingin kehilangan kenyamanan.
Wahai adik-adikku yang akan memimpin para orang dewasa itu di negeri ini beberapa tahun lagi, sekolah ya sekolah saja. Datang, duduk, kerjakan tugas, ujian, pulang. Jangan berani mengkritik sistem pendidikan, guru, atau peristiwa di sekitarmu.

Kau hanyalah bocah yang tak tahu apa-apa, lalu apa hakmu untuk bersuara?


Simpanlah rasa keprihatinanmu untuk diri sendiri, jangan sampai mereka melumatmu bertubi-tubi. Kalau bisa jadilah anak yang datar, yang biasa-biasa saja. 
Tak banyak menarik perhatian, kujamin kau aman. Jadilah seperti umumnya anak-anak lain yang memenuhi hapenya dengan foto selfie, menghabiskan waktu nongkrong di kafe, eksis di mana-mana.

Jangan sampai kalah penampilan sama teman-temanmu itu. Bersenang-senanglah juga selagi muda, haha hihi chatting sama pacar, lalu piknik kalau lagi jenuh. Hobi menulis atau membaca itu terlalu sederhana, tidak memberi kebanggaan kalau dipamerkan ke teman.

Dan curang atau nyontek saja kalau kesulitan mengerjakan soal ujian, kemudian saat lulus corat-coret baju dan konvoi di jalan raya. Pada akhirnya, saat kau punya rasa penasaran yang tidak terpuaskan, kau akan merasa wajar ketika mencari obatnya dari lingkungan yang menggiringmu pada seks, narkoba, dan kenakalan khas remaja. 

Bukankah juga banyak temanmu yang seperti itu?


Jadi adik-adikku, jangan mikir yang berat-berat, apalagi belajar untuk jadi bijaksana dan berpemikiran terbuka sejak usia muda. 
Karena alih-alih diapresiasi, kau mungkin akan dilumat bertubi-tubi. Tidak usah.

Adik-adikku para harapan bangsa, Belakangan ini seorang anak telah membuktikannya. Entah berapa ribu kali pesan penghakiman telah dilontarkan orang. Entah berapa ribu kali ia dikatakan tidak pernah ngaji atau tidak berpihak pada agama yang ia anut dengan keputusannya sediri.


Ia memaparkan pandangan universal yang dipahami oleh semua agama, sedangkan beberapa orang memberi tanggapan dan tandingan hanya dengan menggunakan perspektif yang berasal dari keyakinannya sendiri.


Dimana nyambungnya?


Justru itulah yang coba anak itu sampaikan, mengapa beberapa orang memaksakan kebenaran agamanya dan menutup mata bahwa orang lain pun juga meyakini hal yang sama terhadap agamanya.


Apakah kau menyadari bahwa tiap pemeluk di tiap agama itu sama taatnya, sama tulusnya, dan sama yakinnya denganmu?


Apakah kau sadar bahwa masing-masing juga punya kitab yang menurut versi mereka adalah sebuah kebenaran yang tak terbantahkan?


Apakah kau sadar bahwa mereka juga bisa membela imannya dengan kegigihan yang sama?


Apa yang coba ia sampaikan hanyalah untuk menjaga kerukunan, hanyalah untuk menghormati klaim kebenaran versi sendiri-sendiri.


Tuhan menciptakan kita dengan pikiran yang berbeda, tidak diseragamkan sesuai kehendak orang yang (cuma) merasa jadi wakil-Nya. 
Ia hanya menyampaikan bahwa bersikap takwa dan setia pada agama tidak harus dengan mendiskreditkan keyakinan yang berbeda.

Betapa susahnya memahami hal sesederhana itu saja, sampai-sampai bullyan tak hentinya datang. Adik-adikku sayang, Ingatlah yang kakak sampaikan.


Jangan terlalu tinggi harapan! Kau lihat sendiri, di negeri ini, Korupsi, rusak moral, dan sepi nalar tidak apa-apa, asalkan kau tidak berkata terlampau jujur terhadap realita.


Afi Nihaya Faradisa

SUMBER ; planet.merdeka.com